Kenalan dengan Bule Belanda dalam Bahasa Inggris

Pagi itu, suasana alun-alun kota Malang masih sangat sejuk. Rumput hijau yang baru ditanam terlihat segar meski belum rata sepenuhnya. Pohon-pohon besar berdiri gagah dengan ranting dan daun yang terlihat rapi pasca dipotong oleh tukang kebun. Ditambah suara burung dara yang terdengar lirih karena sudah harus bersaing dengan deru mesin kendaraan bermotor yang sudah lalu lalang di jalan.

Kenalan dengan Bule Belanda Pakai Bahasa Inggris

 

Aku dan suamiku duduk di salah satu tempat duduk berbentuk busur seperempat lingkaran. Cukup besar untuk kami berdua. Dari rumah, kami sudah niat untuk menghabiskan waktu lama di alun-alun ini sambil menikmati rujak.

Tak disangka, di sana kami bertemu dengan seorang bule yang berjalan sendirian. Kami heran karena biasanya bule-bule itu kalau liburan pasti sama temannya. Melihat dia sendirian, kami pun menyapa, memanggilnya untuk sekedar berkenalan dan menawarinya rujak buatanku.

Suamiku yang sudah terbiasa berbahasa inggris pun menantangku untuk berkenalan dengan bule tersebut. Aku menerima tantangan itu, tapi keberanianku membuatku makin gemetar sehingga perkenalan dalam bahasa inggris dengan bule pun tidak lancar. Sepanjang mengobrol, suamikulah yang lebih sering berbicara. Aku lebih banyak mendengarkan (pasif), kadang nyeletuk dalam candaan mereka.

Lewat perkenalan singkat dengan bule itu kami tahu bahwa dia sedang berlibur sendirian. Sebelum sampai di kota Malang, dia singgah dulu di pulau Bali. Dia pun bercerita akan ke Jakarta setelah liburan di Malang selesai. Bule itu juga berkisah tentang pekerjaannya sebagai seorang banker.

Melihat pribadi bule yang terbuka seperti itu, kami pun menjadi lebih terbuka kepadanya. Kami juga bercerita tentang pekerjaan kami. Selain itu, karena kami pengantin baru, dia bertanya apa aku sudah hamil atau belum. Saat itu, aku masih jawab belum. Karena belum test pack. Padahal setelah hari itu, aku tahu kalau aku hamil.

Apa yang aku dapat dari perkenalan singkat dengan bule Belanda itu?

Bahwa bisa berbahasa inggris saja tidak cukup. Kita perlu memiliki keberanian untuk mencobanya. Tapi terlalu berani juga tidak baik. Justru kita harus tetap tenang sehingga tatanan kalimatnya bagus. Karakter orang timur yang terkenal ramah tamah dan santun pun bisa dijaga.

Selain itu, terkadang menjadi pendengar dulu juga baik. Untuk mengetahui siapa lawan bicara kita, bagaimana dan seperti apa karakternya. Dengan begitu kita bisa bersikap dengan baik.

Dari hari itu, aku mengukuhkan niat untuk belajar banyak tentang bahasa inggris, membaca buku conversation bahasa inggris, dan juga mencobanya dengan suamiku di rumah. Semuanya agar aku terbiasa. Bisa karena biasa!