Gula Rafinasi Vs Gula Kristal Putihk, Kembar namun Dibedakan…

Artikel ini aku angkat saat ada mass media yang memberitakan mengenai penarikan Gula Rafinasi dari pasar (Customer), argumennya salah distribusi karna gula rafinasi mesti dibuat kembali atau membahayakan kesehatan.

Tak tahu dari tempat mana awal ceritanya di negeri ini keduanya memperoleh nama yang berlainan begitu halnya system distribusinya. Gula Kristal Putih untuk mengkonsumsi umum serta gula rafinasi untuk mengkonsumsi industri. Karna memanglah berdasar pada kesamaan, keduanya yaitu keduanya sama pemanis alami yang diambil dari tanaman (Tebu serta Beet) yang banyak dipakai untuk berikan cita rasa manis pada makanan, minuman serta obat obatan. Sebagai ketidaksamaan keduanya yaitu langkah pemrosesan (Klarifikasi) dari tanaman sampai jadi gula (Kristal).

Gula Rafinasi Vs Gula Kristal Putihk, Kembar namun Dibedakan…

Tehnologi Klarifikasi Gula pada intinya yaitu sistem pembelahan gula (sukrosa) serta impurities dari kandungan nira/jus (air tebu/beet), biasanya di untuk atas tiga system klarifikasi berdasar pada atas bahan pembantu akhirnya, yakni system defekasi, sulfitasi serta karbonatasi. System Defekasi yaitu system klarifikasi yang cuma memakai hidrolisa kapur jadi bahan pemurniannya, rata rata kwalitas gula yang dibuat berwarna coklat dengan kandungan warna ± 3000 IU. System Sulfitasi yaitu system klarifikasi yang memakai hidrolisa kapur serta Sulfur (gas) jadi bahan pemurniannya, rata rata kwalitas warna yang dibuat 150 – 300 IU. System Karbonatasi yaitu system klarifikasi yang memakai hidrolisa kapur serta gas CO2 jadi bahan pemurniannya, system ini hasilkan kwalitas gula putih (tambah baik dari dua system terlebih dulu) dengan kandungan warna ≤ 100 IU.

Rata rata pabrik gula di Indonesia baik itu perusahaan swasta atau BUMN masih tetap menghasilkan gula siap mengkonsumsi berlainan dengan diluar negeri produksi gula terdiri atas produksi gula mentah serta gula siap mengkonsumsi, tetapi masih tetap ada pula pabrik gula yang seperti di Indonesia.

Di Indonesia rata rata masih tetap memakai tehnologi klarifikasi dengan system sulfitasi baik itu pabrik punya swasta serta BUMN. Memanglah ada bebarapa pabrik swasta yang memakai system karbonatasi atau lebih detailnya system semi rafinasi. Pabrik Semi Rafinasi yaitu pabrik yang menghasilkan gula mentah untuk setelah itu dibuat kembali jadi gula kristal putih (siap mengkonsumsi) dalam satu rangkaian sistem (pabrik), System klarifikasi yang di pakai yaitu system karbonatasi.

Di Indonesia ada juga sebagian Pabrik Gula Rafinasi (Full) yakni pabrik yang memakai Gula Mentah (Import) jadi bahan bakunya untuk setelah itu diolah jadi gula kristal putih, sistem klarifikasi yang dipakai juga yaitu system karbonatasi cuma saja ada sistem ion exchage didalam systemnya. Gula yang dibuat berikut yang di orang-orang di sebut gula rafinasi.

gula rafinasi

Lantas mengapa gula rafinasi tidak bisa di pasarkan bebas di orang-orang serta diwajibkan jadi mengkonsumsi industri?? Sesaat bangsa ini masih tetap belum juga berswasembada produksi gula!!

Jadi agak mengherankan apabila gula rafinasi ditarik dengan argumen gula belum juga layak mengkonsumsi hingga bisa membahayakan kesehatan. Karna dengan akhirnya klarifikasinya nyaris sama juga dengan gula biasanya. Bahkan juga berdasar pada kwalitas warna, gula rafinasi mempunyai kandungan warna lebih putih dari gula dari system sulfitasi, hal semacam ini karna ketidaksamaan system klarifikasinya hingga system/sistem klarifikasi begitu memengaruhi kwalitas gulanya terlebih warna. Tetapi berdasar pada ukuran kristal gula rafinasi lebih kecil di banding gula sulfitasi.

Bila argumen penarikan yaitu kesehatan, bagaimana dengan sebagian pabrik gula rafinasi yang telah bersertifikat halal dari MUI?? Sedang rata rata pabrik pabrik gula terlebih punya BUMN banyak yang masih tetap belum juga bersertifikasi MUI.

Sebagian orang memiliki pendapat, argumen penarikan ini memanglah sedikit politis karna berkaitan dengan kehidupan petani, Pabrik Gula dengan system sulfitasi yaitu pabrik yang membuat tebu jadi bahan bakunya, tebu yang di proses terlebih dipabrik BUMN yaitu tebu punya petani. Jadi bila kelak gula rafinasi di jual bebas dikuatirkan bisa menaklukkan penjualan gula yang dibuat dari tebu petani, dasarnya yaitu persaingan perebutan dagang itulah ketakutan paling utama yang menurut aku kurang masuk akal, sesaat bangsa ini masih tetap belum juga berswasembada produksi gula. http://info-pasar.com/

Jauh dari hal itu di atas, sesungguhnya banyak system produksi gula di negeri ini yang perlu diperbaiki. Pabrik gula yang dimilik BUMN yaitu pabrik pabrik peninggalan pemerintahan hindia belanda yang dalam akhirnya masih tetap kurang standar jadi produsen bahan pangan. Customer gula negeri ini untuk sesaat masih tetap belum juga se gawat seperti diluar negeri, namun bila customer gula negeri ini sudah bisa pilih milih apa yang juga akan di konsumsinya pasti gula negeri ini bisa ditinggalkan olah customer apabila tidak membuat cantik kwalitas produksinya.

Semestinya pekerjaan dari pemerintah serta departemen berkaitan berikan pemahaman mengkonsumsi gula yang sehat di orang-orang. Bukanlah lewat jalan jalan pembodohan lewat media karna menutupi kekurangan serta ketakutan persaingan perebutan dengan memojokkan pihak beda. Karna sekarang ini yang berkembang di orang-orang yaitu gula dengan kwalitas warna coklat tambah baik karna gula dengan kwalitas warna putih mengadung zat pemutih yang beresiko bila dikonsumsi. Hingga ada ketakutan di orang-orang apabila konsumsi gula putih.

Harga gula pasir Mudah-mudahan selalu stabil, hal semacam ini bisa disikapi dengan baik karna artikel ini bukanlah untuk memojokkan pihak manapun, karna hal semacam ini untuk perkembangan produksi gula dinegeri ini untuk hari esok yang tambah baik.